BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai Negara agraris, sebagian besar
penduduk Indonesia menggantungkan hidup pada sektor pertanian , Indonesia
memprioritaskan sektor pertanian sebagai sektor utama dalam pembangunan.
Pembangunan sektor ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahtraan petani melalui
peningkatan produksi dan pendapatan dalam usaha tani. Peningkatan produksi
pertanian diharapkan sejalan dengan pengingkatan pendapatan petani yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Secara umum sistem pertanian yang ada
terdiri atas sistem pertanian tradisional, sistem pertanian modern atau
intensif dan sisitem pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian tradisional
adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan
input yang ada.salah satu contoh pertanian ini adalah sistem ladang berpindah.
Sistem initidak sesuai lagi dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat
akibat bertambahnya penduduk.
Sistem pertanian modern diawali oleh program
revolusi hijau yang mengusahakan pemuliaan tanaman untuk mendapat varietas baru
yang melampaui daerah adaptasi dari varietas yang ada. Varietas tanaman yang
dihasilkan merupakan varietas yang responsife terhadap pengairan dan pemupukan,
adaptasi geografis yang luas, dan resisiten terhadap hama dan penyakit. Gerakan
ini diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di
Meksiko pada tahun 1950 dan padi di Filipina pada tanhun 1960. Revolusi hijau
menekankan pada tanaman serealia yaitu padi, jagung, gandum, dan lain-lain.
Adanya revolusi hijau telah merubah kondisi pertanian yang ada di
Indonesia. Perubahan yang nyata adalah bergesernya paraktik budidaya tanaman
dari praktik budidaya secara tradisional menjadi praktik budidaya yang modern
dicirikan dengan tingginya pemakaian input dan intensifnya eksploitasi lahan.
Hal tersebut merupakan konsekuensi dari penanaman varietas unggul yang
responsive terhadap pemupukan dan resisten terhadap penggunaan pestisida dan
herbisida.
1.2 RUMUSAN MASALAH
·
Apakah
pengertian dari sistem pertanian?
·
Pengertian
sistem pertanian tradisional?
·
Pengertian
sistem pertanian modern?
·
Apa
kelebihan dan kelemahan sistem pertnian tradisional dan modern?
1.3 TUJUAN MASALAH
·
Tujua
umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui sistem
pertanian baik tradisional maupun modern.sekaligus mengetahui kelemahan dan
kelebihan dari sistem tersebut.
·
Tujuan
khusus
Tujuan khusus dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari ekonomi
pertanian.
1.4 Manfaat
Manfaat dari adanya
sistem pertanian ini, diharapkan mampu memberi pengaruh terhadapkita semua
bahwa pertanian sangat penting bagi kita karena kita merupakan Negara agraris
yang menggantungkan hidup dari bertani.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN
PERTANIAN MENURUT PARA AHLI
Menurut Sanganatan (1989) bahwa
istilah umum pertanian berarti kegiatan menanami tanah dengan tanaman yang
nantinya menhasilkan suatu yang dapat di panen, dan kegiatan pertanian
merupakan campur tangan manusia terhadap
tetumbuhan asli dan daur hidupnya. Dalam pertanian modern campur tangan ini
semakin jauh dalam bentuk masukan bahan kimia pertanian, termasuk pupuk kimia,
pestisida dan bahan pembenah tanah lainya. Bahan –bahan tersebut mempunyai
peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produksi tanaman. Akan tetapi dua
istilah “pertanianalami”dan “ pertanian organik” kita kaji lebih dalam , maka
pengertianya akan berbeda.
Istilah pertanian yang pertama, “pertanian
alami” mengisyaratkan kekuatan alam mampu mengatur pertumbuhan tanaman,
sedangkan campur tangan manusia tidak diperlukan sama sekali. Istilah pertanian
yang kedua,” pertanian organik” campur tangan manusia lebih insentif untuk
memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasrkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai
dengan kondisi setempat.( susanto1997).
Pertanian adalah salah satu jenis kegiatan
produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh- tumbuhan dan hewan.
Ada anggapan bahwa asal mula pertanian di dunia dimulai dari asia tenggara.
Awal kegiatan pertanian terjadi ketika manusia mulai mengambil peranan dalam
proses kegiatan tanaman dan hewan serta pengaturanya untuk memenuhi kebutuhan.
Tingkat kemajuan pertanian mulai dari pengumpulan pemburu, pertanian primitive, pertanian
tradisioanal, dan pertanian modern (admin UPI 2012).
Sedangkan menurut Banoewidjojo(1983) pertanian
dalam arti luas yaitu semua kegiatan usaha dalam reproduksi fauna dan flora
tersebut, yang dibedakan kedalam 5 sektor, masing-masing pertanian
rakyat,perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Dalam arti sempit
yaitu khusus pertanian rakyat.
Pertanian merupakan bagian dari
agroekosistem yang tak terpisahkan dengan subsistem kesehatan dan lingkungan
alam, manusia dan budaya saling mengait dalam suatu proses produksi untuk
kelangsungan hidup bersama(karwan A.Salikin).
Pertanian sebagai mata pencaharian utama
dalam kehidupan manusia di beberapa bagian dunia telah mengalami proses
perkembanganyang cukup panjang dalam
sejarah kebudayaan manusia yang sejalan dengan perkembangan pengetahuan manusia
tentang jenis-jenis tanaman dan cara menanamnya. Awalnya, usaha manusia demi
mempertahankan hidup yaitu dengan mengumpulkan hasil bumi serta dengan berburu
hewan disekitar lingkungan mereka. Kegiatan tersebut dikenal dengan “ berburu
dan meramu”. Seiring dengan perkembangan zaman,muncullah kegiatan bercocok
tanam di ladang. Perubahan tersebut membawa perubahan dalam perkembangan
kebudayaan manusia. Sehubungan dengan ini, penulis akan membahas singkat
tentang sistem pertanian dan perkembangan pertanian.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 PENGERTIAN SISTEM PERTANIAN
Sistem pertanian (agrosistem) adalah
sekumpulan komponen yang disatukan oleh suatu bentuk interaksi dan saling ketergantungan
pada suatu batas tertentu, untuk mencapai tujuan pertanian bagi pihak-pihak
yang terlibat. Sistem pertanian (farming system) adalah pengaturan usaha tani
yang stabil , unik dan layak yang dikelola menurut praktek yang dijabarkan
sesuai lingkungan fisik, biologis dan sosio ekonomi menurut tujuan, preferensi,
dan sumber daya rumah tangga.
Sistem pertanian semakin tergantung pada input-input luar sebagai berikut; kimia
buatan (pupuk,pestisida), benih hibrida, mekanisasi, dengan pemanfaatan bahan
bakar minyak dan juga irigasi. Konsumsi terhadap sumber-sumber yang tidak dapat
diperbaharui, seperti minyak bumi dan fosfat sudah dalam tingkat yang
membahayakan. Bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan akan produk pertanian,
maka teknologi baru untuk pengembangan varietas baru, seperti jagung, padi,
gandum, serta tanaman komersial lainya juga nampak semakin menantang. Namun
demikian, pemanfaatan input buatan yang berlebihan dan tidak seimbang, bisa
menimbulkan dampak besar, bukan hanya terhadap ekologi dan lingkungan, tetapi
bahkan terhadap situasi ekonomi, sosial dan politik diantaranya dengan adanya
ketergantungan pada impor peralatan, benih serta input lainya. Akibat
selanjutnya adalah menyebabkan ketidakmerataan antar daerah dan perorangan yang
telah memperburuk situasi sebagian besar petani lahan sempit yang tergilas oleh
revolusi hijau (Reijntjes, haverkort, dan bayer,1999) .
3.2 SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL
Sistem pertanian tradisional adalah sistem
pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan input yang ada.
Sistem pertanian tradisional salah satu contohnya adalah sistem ladang
berpindah. Sistem ladang berpindah telah tidak sejalan lagi dengan kebutuhan
lahan yang semakin meningkat akibat bertambahnya penduduk. Pertanian tradisional
bersifat tak menentu. Keadaan ini bisa dikbuktikan dengan kenyataan bahwa
manusia seolah-olah hidup di atas tonggak. Pada daerah-daerah yang lahan
pertanianya sempit dan penanaman hanya tergantung pada curah hujan yang tak
dapat dipastikan, produk rata-rata akan menjadi sangat rendah, dan dalam
keadaan tahun-tahun yang buruk, para petani dan keluarganya akan mengalami
bahaya kelaparan yang sangat mencekam. Dalam keadaan yang demikian, kekuatan
motivasi utama dalam kehidupan para petani ini barangkali bukanlah meningkatkan
penghasilan, tetapi berusaha untuk bisa mempertahankan kehidupan keluarganya.
Pada pertanian tradisional biasanya lebih
ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan hidup para petani dan tidak untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi petani, sehingga hasil keuntungan petani dari hasil pertanian
tradisional tidak tinggi, bahkan ada yang sama sekali tidak ada dalam hasil
produksi pertanian.
Sebenarnya pertanian tradisional merupakan pertanian yang akrab lingkungan
karena tidak menggunakan pestisida. Akan tetapi produksinya tidak mampu
mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Untuk
mengimbangi kebutuhan pangan tersebut perlu diupayakan peningkatan produksi
yang kemudian berkembang sisitem pertanian konvensional. Dalam pertanian
tradisional, produksi pertanian dan konsumen sama banyaknya dan hanya satu atau
dua macam tanaman saja ( biasanya jagung atau padi) yang merupakan sumber pokok
bahan makanan. Produksi dan produktivitas rendah karena hanya menggunakan
peralatan yang sangat sederhana. Penanaman atau penggunaan modal hanya sedikit
sekali, sedangkan tanah dan tenaga kerja manusia merupakan faktor produksi yang
dominan. Pada tahap ini hukum penurunan hasil (law of diminishing return)
berlaku karena terlampau banyak tenaga kerja yang pindah bekerja di lahan
pertanian yang sempit. Kegagalan panen karena hujan dan banjir, atau kurang
suburnya tanah, tindakan pemerasan oleh oara rentenir merupakan hal yang sangat
ditakuti para petani.
A.PERTANIAN TRADISIONAL BERDASARKAN
FUNGSI DASAR EKONOMI
Dalam pertanian tradisional biasanya
menggunakan prinsip yang mana pertanian tradisional hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya
sekarang, misalnya pada masyarakat bercocok tanam, tanaman padi yang mana
hasilnya yang telah diproduksi dan diolah menjadi beras kemudian di konsumsi
oleh keluarganya, sehingga terus berjalan kelangsungan hidupnya. Kemudian ciri
pertanian tradisional yaitu masih berpaku pada alam yang man ketika masyarakat
menanam suatu tanaman dengan pertanian tradisional maka hasilnya akan
tergantung pada proses alam.
Pada sisitem pertanian terdapat beberapa
evaluasi terhadap aspek ekonomi. Pertanian tradisional jika dilihat dari aspek
ekonomi antara lain:
1. Penggunaan teknologi yang belum
berkembang
Dalam hal ini biasanya pada pertanian tradisional menggunakan
alat atau teknologi yang masih rendah atau belum berkembang. Yang mana hal ini
dapat memperlambat hasil yang di produksi dan akan membuang waktu dalam proses
bercocok tanam. Misalnya pada sisitem tradisional masyarakat untuk membajak
sawah masih menggunakan kerbau hal ini masih kurang efisien dalam pemanfaatan
waktu dan tenaga. Akan tetapi dari sektor ekonominya lebih rendah dan minim
pengeluaran untuk mengelola lahan untuk menghasilkan produk.
2. Tenaga kerja yang masih banyak
digunakan
Untuk pertanian tradisional biasanya digunakan lebih banyak
tenaga kerja dalam mengelola lahan pertanian untuk menghasilkan produksi.hal
ini dikarenakan masih minimnya teknologi yang ada sehingga pelaksanaan
menggunakan SDM ( sumber daya manusia) yang ada. Sebagai contoh dalam hal panen
tanaman tebu yang mana digunakan tenaga kerja manusia dalam proses penebangan,
kemudian contoh lain proses perontokan helai padi yang masih menggunakan tenaga
manusia untuk melakukan walaupun saat ini mulai ada teknologi yang membantu
merontokan helai padi. Hal ini mencerminkan bahwa pertanian tradisional masih
tergantung dengan sumber tenaga manusia yang ada, akan tetapi dari sektor
ekonominya lebih murah.
3. Modal yang dipakai masih sedikit
Dalam hal ini modal dalam pengolahan produksi pertanian masih
sedikit karena kebutuhan yang dibuat tidak terlalu membutuhkan modal lebih.
Biasanya juga hanya butuh modal untuk pembayaran tenaga kerja dan lain-lain
yang rata-rata minim.
4. Hasil produksi yang masih kurang
terjangkau
Dalam pertanian tradisional sering hasil yang di produksi
hanya sebatas untuk di konsumsi keluarga maupun masyarakat golongan. Hal ini
dikarenakan masih minimnya cara budidaya tanaman sehingga produk yang
dihasilkan masih rendah.
B.PERTANIAN TRADISIONAL
BERDASARKAN FUNGSI DASAR EKOLOGI
Dalam pertanian tradisional untuk mengolah
hasil produk pertanian masih tergantung dengan alam /ekologi sekitar.
Dikarenakan dalam proses pertanian tradisional produknya hanya untuk memenuhi
konsumsi petaninya, bukan untuk mencari keuntungan besar.
Adapun
dampak positif yang terjadi dari pertanian tradisional yaitu:
1. Pelestarian alam yang masih terjamin
dan terus berkembang.
Yang mana pelestarian alam terus berjalan karena proses ini
berjalan dan akan bisa memproduksi dengan rata-rata konstan untuk musim-musim
kedepanya.
2. Tidak adanya kerusakan ataupun
pencemaran yang terjadi
Proses pertanian tradisional terjadi tanpa adanya perusakan
ekosistem yang ada sekitar maupun tanpa pencemaran yang bisa mengakibatkan
penurunan hasil produktivitas pengolahan pertanian.
C.PERTANIAN TRADISIONAL BERDASARKAN
FUNGSI DASAR SOSIAL
Dalam pertanian tradisional terjadi
hubungan yang erat antar sesama dikarenakan dalam proses pertanian tradisional
menjunjung tinggi tolong menolong dan gotong royong, apalagi dengan sisitem
tradisional yang menyebabkan antar petani saling membutuhkan dan membantu untuk
menghasilkan produktivitas oertanian yang telah di olah.
3.3
PERTANIAN MODERN
Pertanian modern adalah pola pertanian
dengan menggunakan alat-alat canggih dan dengan skala besar. Pertanian modern
harus menggunakan peralatan modern. Aplikasi pertanian modern yang telah
terlaksana seperti pertanian gandum, pertanian padi, pertanian anggur. Pertanian
modern bertujuan untuk memutus ketergantungan petani terhadap input eksternal
dan penguasa pasar yang mendominasi sumber daya agraria. Pertanian modern
merupakan tahapan penting dalam menata ulang struktur agraria dan membangun
sistem ekonomi pertanian yang sinergis antara produksi dan distribusi dalam
kerangka pembaruan agraria.
Pelaksanaan pertanian modern bersumber dari tradisi
pertanian keluarga yang menghargai, menjamin dan melindungi keberlanjutan alam
untuk mewujudkan kembali budaya pertanian sebagai kehidupan. Oleh karena itu,
SPI mengistilahkannya sebagai “Pertanian modern berbasis keluarga petani”,
untuk membedakannya dengan konsep pertanian organik berhaluan agribisnis.
Pertanian modern merupakan tulang punggung bagi terwujudnya kedaulatan pangan
(Serikat Petani Indonesia, 2008).
Pertanian
modern meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosio ekonomi. Pertanian
modern direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan
pengurangan input bahan-bahan kimia mengendalikan erosi tanah dan
gulma, serta memelihara kesuburan tanah. Pertanian modern
memiliki konsep dasar yaitu mempertahankan ekosistem alami lahan
pertanian yang sehat, bebas dari bahan-bahan kimia yang meracuni
lingkungan.Dalam pertanian modern terdapat komponen dasar
agroekosistem baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang,
dimana komponen dasar agroekosistem tersebut memadukan antara produktivitas
(productivity), stabilitas (Stability), Pemerataan (equlity).
Pertanian modern merupakan suatu
ajakan moral untuk berbuat kebijakan pada lingkungan Sumber Daya Alam dalam
usaha pertanian dengan mempertimbangkan 3 aspek, yaitu:
a. Kesadaran
Lingkungan (Ecologically Sound), sistem budidaya pertanian tidak boleh
menyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbangan lingkungan adalah
indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenya
dikendalikan oleh hukum alam.
b. Bernilai
ekonomis (Economic Valueable), sistem budidaya pertanian harus mengacu pada
pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka
pandek dan jangka panjang, serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun
diluar sistem ekologi. Sumber daya alam terlanjutkan (tidak tereksploitasi).
c. Berwatak sosial
atau kemasyarakatan (Socially Just), sistem pertanian harus selaras dengan
norma-noma sosial dan budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh masyarakat
setempat. (Lisa navita)
A.SISTEM PERTANIAN MODERN
Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan
eketernal berupa bahan-bahan kimia buatan
(pupuk dan pestisida), menimbulkan kekhawatiran berupa
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sedangkan pertanian tradisional
yang bertumpu pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal menimbulkan
kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian, jauh di bawah
kebutuhan manusia.Kedua hal ini yang dilematis dan hal ini telah membawa
manusia kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan penggunaan masukan dari
luar sistem pertanian itu, namun tidak membahayakan kehidupan manusia dan
lingkungannya (Mugnisjah, 2001). Pertanian modern dikhawatirkan memberikan
dampak pencemaran sehingga membahayakan kelestarian lingkungan,
hal ini dipandang sebagai suatu krisis pertanian modern.Sebagai alternatif
penanggulangan krisis pertanian modern adalah penerapan pertanian organik.Kegunaan
budidaya organik menurut Sutanto (2002) adalah meniadakan atau membatasi
kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi.Pemanfaatan
pupuk organik mempunyai keunggulan nyatadibanding dengan pupuk kimia.Pupuk
organik dengan sendirinyamerupakan keluaran setiap budidaya pertanian, sehingga
merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan
cuma-cuma. Pupuk organik berdaya amliorasi ganda
dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan
tanahdan sekaligus menkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta
menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan demikian
penerapan sistem pertanian organik pada gilirannya akan menciptakan
pertanian yang berkelanjutan.
Dunia
pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas. Keberhasilan
diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan. Semakin banyak,
semakin dianggap maju. Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia
merupakan bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk
memacu hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern.
·
Pertanian
modern berdasarkan fungsi dasar Ekonomi
Penerapan
pertanian organik, memberikan manfaat bagi masyarakat dalam upaya pemberdayaan
ekonomi rakyat antara lain :
a. Produksi pertanian organik jauh dibawah hasil produksi
sistem konvensional
Adanya perbedaan hasil ini mencerminkan adanya perbedaan teknik bercocok
tanam dan pengalaman petani. Industri pangan organik berkembang sangat cepat
sementara petani belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk
menerapkan sistem pertanian organik yang benar. Perbedaan hasil juga seringkali
bergantung pada jenis tanaman yang diusahakan. Beberapa hasil penelitian di
kawasan Timur Canada menunjukkan bahwa hasil gandum organik adalah 75% lebih
rendah dibanding dengan gandum konvensional. Pada kasus cuaca yang tidak
normal, misalnya musim kering yang panjang, maka produktivitas pertanian
organik biasanya lebih tinggi dibanding pertanian konvensional. Di samping itu,
pertanian organik juga relative lebih tahan terhadap gangguan hama dan
penyakit.
b. Minimnya akses transportasi pada lokasi-lokasi yang memenuhi syarat
untuk budidaya pertanian organik
Minimnya akses transportasi disebabkan karena daerah yang memenuhi
syarat untuk budidaya pertanian organik adalah daerah yang minim pencemaran
lingkungan. Hal ini menimbulkan beberapa implikasi lanjutan antara lain : (a).
sulitnya mendistribusikan bahan input atau sarana produksi pertanian seperti
pupuk dan pestisida organik, benih, dan peralatan kerja; (b). sulitnya membawa
hasil/produk pertanian organik dari lahan ke pasar; (c). mahalnya biaya untuk
transportasi dari dan ke lokasi budidaya pertanian organik.
c. Pertanian modern memerlukan biaya produksi relatif
lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional
Khususnya untuk penyediaan input produksi pertanian konvensional
memiliki biaya produksi lebih tinggi daripada pertanian modern. Dalam pertanian
modern pembelian pupuk dan pestisida sintetis tidak diperlukan lagi. pengendalian
gulma dilakukan secara mekanis. Pengolahan tanah untuk pengendalian gulma
setelah tanaman tumbuh dilakukan dengan cara minimal. Banyak orang berpendapat
bahwa pengendalian gulma akan meningkatkan frekuensi pengolahan tanah dan juga
biaya. Dalam prakteknya, ternyata tidaklah demikian. Dengan perbaikan struktur
tanah dan praktek pengelolaan yang baik, pertanian modern justru meminimalkan
pengolahan tanah, atau lebih sedikit, dibanding pertanian konvensional.
d. Pendapatan petani modern sedikit lebih besar dibanding
dengan petani konvensional
Secara umum, biaya produksi lebih rendah dan pendapatan lebih besar
(karena premium price). Industri organik berubah sangat cepat sehingga
mempengaruhi ketidakstabilan harga. Sebagai contoh, adanya harga tinggi pada
satu jenis komoditi telah mendorong banyak petani menanam komoditi yang sama
secara bersamaan. Ini menyebabkan harga turun ketika musim panen. Banyak orang
berpendapat bahwa sejalan dengan waktu premium price akan stabil. Meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan
petani, sebagai contoh biaya pembelian pupuk organik lebih murah dari biaya
pembelian pupuk kimia; Harga jual hasil pertanian organik seringkali lebih
mahal. Contoh, harga beras organik saat ini Rp. 10.000 – 15.000,-/kg sedang
beras biasa Rp. 9000 – 11.000,-/kg; Petani dan peternak bisa mendapatkan
tambahan pendapatan dari penjualan jerami dan kotoran ternaknya;Bagi peternak,
biaya pembelian pakan ternak dari hasil fermentasi bahan organik lebih murah
dari pakan ternak konvensional; Pengembangan pertanian organik berarti memacu
daya saing produk agribisnis Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar
internasional akan produk pertanian organik yang terus meningkat. Ini berarti
akan mendatangkan devisa bagi pemerintah daerah yang pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan petani.
e.
Menciptakan lapangan kerja baru dan
keharmonisan kehidupan sosial di pedesaan
Pertanian modern akan merangsang hadirnya industri kompos rakyat yang
berarti adanya lapangan kerja baru bagi masyarakat pedesaan. Disamping itu,
penerapan pertanian modern juga akan merangsang adanya kerjasama kemitraan
antara petani peternak-pekebun untuk menerapkan sistem pertanian terpadu. Dalam
hubungan ini, peternak mendapatkan bahan makanan ternak dari limbah pertanian
(jerami dan dedak, misalnya) dari petani, sedangkan petani mendapatkan kotoran
hewan dari peternak sebagai bahan kompos untuk usaha pertanian organiknya. Hal
ini secara langsung akan menciptakan keharmonisan kehidupan sosial di pedesaan.
* Pertanian modern berdasarkan fungsi dasar Ekologi
Prinsip ekologi dalam penerapan
pertanian organik dapat dipilahkan sebagai berikut:
a.
Memperbaiki kondisi tanah
Dengan menggunakan sistem pertanian modern, tanah yang rusak dapat
diperbaiki sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan
bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah.
b. Optimalisasi
ketersediaan dan keseimbangan daur hara
Jika menggunakan sistem pertanian modern ketersediaan dan keseimbangan
daur hara dapat dioptimalisasi melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara,
penambahan dan daur pupuk dari luar .
c.
Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan
cara mengelola iklim mikro,
pengelolaan air dan pencegahan erosi.
d. Membatasi
terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan
usaha preventif melalui perlakuan yang aman.
e.
Pemanfaatan sumber genetika (plasma nutfah) yang saling mendukung dan
bersifat sinergisme dengan cara mngkombinasikan fungsi keragaman sistem
pertanian terpadu.
f.
Menghasilkan bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya
serta tidak merusak lingkungan
g. Kualitas SDA
dipertahankan
h. Ramah
lingkungan karena menggunakan pupuk kompos, ataupun pupuk kandang yang
keseluruhannya berasal dari alam,
i.
Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian.
j.
Menjaga sifat fisik, kimia dan biologi tanah
Dalam pertanian modern diutamakan cara pengelolaan tanah yang
meminimalkan erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah serta mendorong
kuantitas dan diversitas biologi tanah.Dalam pertanian organik peningkatan
kesuburan tanah dilakukan tanpa menggunakanpupuk kimia sintetis. Sebagai
gantinya digunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman secara
tepat, mixed cropping dan integrasi tanaman dengan ternak,
meminimalkan pengolahan tanah yang mengganggu aktivitas biota tanah,menggunakan
tanaman dalam strip dan tumpang sari.
k. Penghematan
energi
Hasil studi menunjukkan bahwa sistem produksi organik hanya menggunakan
50–80% energi minyak untuk menghasilkan setiap unit pangan dibandingkan dengan
sistem produksi pertanian konvensional. Namun demikian, ini tidak berlaku untuk
semua sistem produksi sayuran dan buah-buahan.
l.
Tidak mencemari air
Penjagaan kualitas air merupakan upaya yang sangat penting dalam sistem
pertanian lestari(sustainable agriculture system).Kenyataan menunjukkan bahwa
polusi air tanah (groundwater) dan air muka tanah (surface
water) oleh nitrat dan fosfat menjadi hal yang umum terjadi di kawasan
pertanian. Residu pupuk dan pestisida sintetis serta bakteri penyebab penyakit
seperti Escherichia Coli juga seringkali terdeteksi di sistem
perairan.
Pada areal pertanian organik, sumber air dijaga dengan menghindari
praktek-praktek pertanian yang menyebabkan erosi tanah dan pencucian nutrisi,
pencemaran air akibat penggunaan bahan kimia. Kotoran hewan yang akan digunakan
untuk pupuk organik selalu dikelola dengan hati-hati dan dikomposkan sebelum
digunakan. Di samping itu, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis juga
dilarang dalam sistem pertanian organik.
m. Tidak mencemari
udara
Pertanian modern terbukti mampu meminimalkan perubahan iklim global
karena emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emission) pada pertanian
organik lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional. Dalam pertanian
organik tidak menggunakan pupuk nitrogen sintetis sehingga tidak ada emisi
nitrogen oksida dari pupuk buatan tersebut. Penggunaan minyak bumi juga lebih
rendah sehingga menurunkan emisi gas karbon dioksida. Lebih penting lagi,
pertanian organik menyediakan penampungan (sink) untuk karbon
dioksida melalui peningkatan kandungan bahan organik di tanah serta penutupan
permukaan tanah dengan tanaman penutup tanah.
n. Dapat
memanfaatkan limbah
Praktek pertanian modern mengurangi jumlah limbah melalui daur ulang
limbah menjadi pupuk organik. Kotoran ternak, jerami dan limbah pertanian
lainnya yang selama ini dianggap limbah, justru menjadi bahan yang mempunyai
nilai sebagai sumber nutrisi dan bahan organik bagi pertanian organik.
o. Menciptakan
keanekaragaman hayati
Pertanian organik tidak hanya menghindari penggunaan pestisida sintetis,
namun juga mampu menciptakan keanekaragaman hayati. Praktek seperti rotasi
pertanaman, tumpang sari serta pengolahan tanah konservasi merupakan hal-hal
yang mampu meningkatkan keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat yang
sehat bagi banyak spesies mulai dari jamur mikroskopis hingga binatang besar.
Pertanian organik tidak menggunakan organisme hasil rekayasa genetika(Genetic
Enggineering Organism) atau organisme transgenik (Genetically
Modified Organism)serta produknya karena alasan keamanan lingkungan, kesehatan
dan sosial. Produk-produk seperti ini tidak dibutuhkan karena mungkin
menyebabkan resiko yang tidak dapat diterima pada integritas spesies.
* Pertanian modern berdasarkan fungsi
dasar Sosial
a.
Menghasilkan makanan yang cukup, aman dan bergizi sehingga meningkatkan
kesehatan masyarakat.
Pada sistem pertanian berkelanjutan, tidak digunakan pupuk kimia secara
berlebihan sehingga produk-produk yang dihasilkan layak konsumsi dan aman serta
bergizi bagi masyarakat.
b. Kebutuhan dasar
seluruh masyarakat terpenuhi
Dengan menerapkan sistem pertanian modern, hasil produksi yang di dapat
stabil sehingga seluruh kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi.
c.
Segala bentuk kehidupan dihargai
Manusia hidup di dunia tidak sendiri, melainkan berdampingan dengan
hewaan dan tumbuhan. Dengan menerapkannya sistem pertanian modern, manusia,
hewan, dan tumbuhan dan bekerjasama dengan baik dan semua berperan dalam
menghadapi hidup. Sehingga semua bentuk kehidupan dapat dihargai.
d. Menciptakan
lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani.
Dengan digunakannya sistem pertanian modern dapat menciptakan lingkungan
kerja yang aman dan sehat bagi petani. Hal ini dikarenakan petani akan
terhindar dari paparan(exposure) polusi yang diakibatkan oleh digunakannya
bahan kimia sintetik dalam produksi pertanian.
B.MANAJEMEN PERTANIAN MODERN
Manajemen
pertanian modern menitik beratkan pada segi:
1. Produktivitas
2. Efisiensi
1.Produktivitas
Merupakan
upaya untuk menaikan jumlah produksi dari lahan pertanian yang tersedia. Faktor-faktor
yang dapat menunjang hasil produksi antara lain:
·
Lahan
·
Kesuburan
tanah
·
Bibit
yang digunakan
·
Tenaga
kerja
·
Pupuk
·
Aspek
manejemen pengolahan hasil
·
Modernisasi
alat pertanian
2.Efisiensi
Efisiensi
menurut pengertian ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
·
Efisiensi
teknis
·
Efisiensi
alokatif(harga)
·
Efisiensi
ekonomi
#. Efisiensi teknis adalah suatu faktor penggunaan apabila
faktor produksi yang digunakan menghasilkan produksi yang maksimal.
#. Efisiensi harga di lihat dari frofit ( keuntungan) yang di
dapat.
#. Efisiensi ekonomi yaitu apabila usaha pertanian tersebut
mencapai efisiensi teknis dan harga.
Di Indonesia gebrakan revolusi hijau
terlihat pada decade 1980-an. Saat itu, pemerintah mengkomando penanaman padi,
pemaksaan pemakaian bibit impor,pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainya.
Hasilnya Indonesia sempat menikmati swasembada beras. Namun pada decade
1990-an, petani mulai menghadapi serangan hama, kesuburan tanah merosot,
ketergantungan pemakaian pupuk yang semakin meningkat dan pestisida yang tak
manjur lagi.
Contoh
sisitem pertanian modern , Corporate
Farming adalah sisitem pertanian dengan menerapkan cara penggarapan lahan
yang relative luas secara bersama-sama dalam satu sisitempengelolaan oleh
sebuah perusahaan atau korporasi.
C.PEMANFAATAN TEKNOLOGI
TEKNOLOGI PERTANIAN MODERN MELALUI
BIOTEKNOLOGI
Kehadiran revolusi genetika dalam pertanian
melalui bioteknologi disambut gembira tidak hanya oleh peneliti, tetapi juga
oleh praktisi pertanian. Bioteknologi merupakan teknologi yang memanfaatkan
agen hayati (makhluk hidup) yang telah mengalami rekayasa genetika atau
bagian-bagian untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan
manusia dan lingkungannya.
Pada masa lalu gen ditrasfer melalui
persilangan biasa atau cara konvensional pada sekerabat. Misalkan padi atau
jagung varietas yang satu dengan varietas padi atau jagung varietas yang lain.
Perkembangan teknologi pertanian modern melalui bioteknologi dapat memindahkan
gen dari spesies apa saja ke spesies lain melalui berbagai cara, antara lain
dengan pemanfaatan vector pemindahan gen.Teknik semacam ini telah banyak
dikembangkan untuk tanaman budidaya. Produk rekayasa genetika jagung, kedelai
dan kapas telah dihasilkan dan dijual oleh perusahaan agrokimia multinasional seperti
Novartis, Monsato,Zeneca, dan lain-lain. Melalui bioteknologi diharapkan muncul
tanaman tahan terhadap hama dan penyakit, dapat tumbuh dilahan yang mempunyai
kendala cekaman fisik (tanah garam, tanah masam, cekaman kekeringan, dan
lain-lain) sesuai dengan harapan peneliti/pemulia tanaman. Bioteknologi manusia
mampu melewati batasan biologi, baik itu kelompok hewan, tumbuhan maupun
mikroorganisme dalam memasukan sifat yang diinginkan.
Bioteknologi dan industry bioteknologi
dalam dasawarsa terahir berkembang sangat pesat. Tercatat sampai dengan tahun
1997 tidak kurang dari 124 organisme baru terutama tanaman trasngenik ( tanaman
yang telah mengalami rekayasa genetika) telah dimintakan izin dan dipatenkan
untuk budidaya dan dipasarkan secara global. Pengembangan bioteknologi melalui
rekayasa genetika berlandaskan pada keanekaragaman hayati atau dapat dikatakan
bahwa keanekaragaman hayati merupakan asset pengembangan bioteknologi.
Indonesia merupakan Negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar
didunia, diikuti oleh brazil, Zaire dan Negara-negara berkembang lainya. Dapat
dipastikan bahwa Negara-negara maju teknologinya adalah Negara yang miskin
keanekaragaman hayati, sedangkan Negara yang kaya dengan keanekaragaman
hayatinya terbatas kemampuan teknologinya. Diperkirakan di dunia ini terdapat
5-30 juta spesies dan hanya sekitar 1,4 juta saja yang telah mengalami
teridentifikasi secara ilmiah. Disamping nilai tambah ekonomis,pemanfaatan
tanaman dan hewan yang telah mengalami rekayasa mempunyai potensi merugikan
terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan lingkungan termasuk kesehatan
manusia dan ternak. Sebagai contoh, padi yang toleran herbisida akan memacu
peningkatan pemakai pestisida. Padi yang diberi masukan berupa gen Bacillus thuringensis akan mengganggu perkembangan ekologi. Bacillus thuringensisi adalah pestisida
yang menghalangi serangga hama secara alami dan dapat mengendalikan hama
tertentu tanpa meninggalkan pengaruh terhadap mamalia, burung atau spesies
lainya yang menguntungkan.
3.4 KELEBIHAN DAN KELEMAHAN SISITEM
PERTANIAN TRADISIONAL
Kelebihan
sistem pertanian tradisional yaitu:
·
Lebih
ramah ingkungan
·
Dapat
melestarikan budaya asli pedesaan yang umunya sering berkaitan dengan ritual
dalam pertanian
Kelemahan
sistem pertanian tradisional yaitu:
·
Membutuhkan
tenga kerja yang banyak
·
Sangat
tergantung pada iklim
·
Selalu
berpindah-pindah tempat budidaya tanam.
3.5 KELEBIHAN DAN KELEMAHAN SISTEM
PERTANIAN MODERN
Kelebihan
pertanian modern
·
Mampu
menciptakan bibit unggul yang akan member produk bermutu tinggi secara kualitas
dan kuantitas
·
Meningkatnya
sifat resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman
·
Mengatasi
terbatasnya lahan pertanian
·
Mengatasi
produksi bibit yang sama dalam jangka waktu singkat
·
Mengendalikan
serangga perusak tanaman budidaya
Kelemahan
pertanian modern
·
Merugikan
petani kecil dan menimbulkan kesenjangan ekonomi karena pertanian modern yang
pada umumnya dimiliki oleh pemilik modal dapat meningkatkan produksi hingga
50%.
·
Karena
pasokan produk pertanian modern terbatas maka harga akan lebih tinggi. Hal ini
juga akan berlaku pada peralatan pertanian.
BAB IV
PENUTUP
4.1 SIMPULAN
Pertanian adalah salah satu jenis kegiatan
produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Sistem pertanian (farming system) adalah pengaturan usaha tani yang stabil,
unik dan layak yang dikelola menurut praktek yang dijabarkan sesuai lingkungan
fisik, biologis dan sosio ekonomi menurut tujuan, preferensi dan sumber daya
rumah tangga. Sistem pertanian
tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan
tidak memaksimalkan input yang ada. Pada
sistem pertanian tradisional terdapat beberapa evaluasi terhadap aspek ekonomi.
Pertanian tradisional jika dilihat dari aspek ekonomi antara lain:
1. Penggunaan teknologi yang belum berkembang.
2. Tenaga kerja yang masih banyak di gunakan
3. Modal yang dipakai masih sedikit
4. Hasil produksi yang masih kurang terjangkau
Adapun dampak positif
yang terjadi dari pertanian tradisional yaitu:
1. Pelestarian alam yang masih terjamin dan terus berkembang.
2. Tidak adanya kerusakan ataupun
pencemaran yang terjadi
Pada
Pertanian tradisional biasanya lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup
para petani dan tidak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi petani, sehingga hasil
keuntungan petani dari hasil pertanian tradisional tidak tinggi , bahkan ada yang sama sekali
tidak ada dalam hasil produksi pertanian. Pertanian modern adalah pola
pertanian dengan menggunakan alat-alat canggih dan dengan skala besar.
Pertanian modern harus menggunakan peralatan modern. Aplikasi pertanian modern
yang telah terlaksana seperti pertanian gandum, pertanian padi, pertanian
anggur.Pertanian modern merupakan tulang punggung bagi terwujudnya kedaulatan
pangan.
Pertanian modern meliputi pertanian organik, hidroponik,
holtikultura, dll. Metode ini akan dapat membawa keuntungan bagi para petani
dengan banyak cara. Salah satu contoh pertanian modern adalah pertanian
organik.
4.2 SARAN
Sejak lama,Indonesia sudah dikenal
sebagai Negara Agraris.Tetapi kontribusi sector
pertanian terhadap pendapatan
nasional dan pendapatan petani semakin menurun. Bahkan, dikalangan keluarga
petani-petani kecil sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, sumbangan
pendapatan yang berasal dari kegiatan on-farm hanya berkisar abtara 20-30$ terhadap
kebutuhan keluarganya.Menghadapi kenyataan tersebut, terdapat alternative
strategi untuk memperbaiki keadaan pertanian di Indonesia,yaitu melalui
“modernisasi pertanian.” Melalui
strategi ini, diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membuka
peluang yang lebih baik untuk perubahan struktur ekonomi, perluasan kesempatan
kerja, peningkatan pendapatn dan kesejahteraan, serta pemerataan, dan
kelestarian lingkungan hidup, yang merupakan ciri-ciri dari pelaksanaan pembangunan
pertanian yang berkelanjutan. Semakin diterapkannya sistem
pertanian modern yang berbasis revolusi hijau demi peningkatan produkivitas
pertanian sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.